Reses di Wawowanggu, Harmawati Edukasi Warga tentang Pencegahan dan Penanganan TB

Jumat, 05 Juni 2026 | 07:38 WIB Last Updated 2026-06-04T23:38:39Z

Reses Anggota DPRD Sultra, Harmawati di Kelurahan Wawowanggu. Foto: La Ode Andi Rahmat.

KENDARI, NOTIFSULTRA.ID
– Anggota DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra) Komisi IV dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Harmawati, memanfaatkan kegiatan reses masa sidang II Tahun 2025-2026 di Kelurahan Wawowanggu, Kecamatan Kadia, Kamis (4/6/2026), untuk mengedukasi masyarakat mengenai pencegahan dan penanganan tuberkulosis (TB).

Kegiatan yang dihadiri warga, tokoh masyarakat, kader kesehatan, pengurus masjid, serta pemerintah setempat itu tidak hanya menjadi wadah penyerapan aspirasi masyarakat, tetapi juga sarana sosialisasi penyakit TB yang hingga kini masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia.

Harmawati mengatakan, upaya penanggulangan TB membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat melalui peningkatan pemahaman terhadap gejala dan pentingnya pengobatan yang tuntas.

"Sampai saat ini TB belum tuntas. Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus TB tertinggi di dunia. Karena itu edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan," kata Harmawati.

Anggota DPRD Sultra, Harmawati saat di wawancarai usai kegiatan reses. Foto: La Ode Andi Rahmat.

Menurutnya, masyarakat perlu mengenali gejala-gejala TB sejak dini, seperti batuk lebih dari dua minggu, demam pada malam hari, nyeri dada, serta penurunan berat badan secara terus-menerus.

"Kalau menemukan gejala-gejala tersebut, segera arahkan untuk memeriksakan diri ke puskesmas. Pengobatannya tersedia dan ditanggung oleh pemerintah," ujarnya.

Ia juga mengingatkan pasien agar tidak menghentikan pengobatan sebelum dinyatakan sembuh oleh tenaga kesehatan karena dapat memicu resistensi obat.

"Jika dokter menginstruksikan pengobatan selama tiga bulan, enam bulan, atau sembilan bulan, maka harus dijalani sampai tuntas. Jangan berhenti di tengah jalan karena dapat menyebabkan kuman menjadi kebal atau resisten terhadap obat," jelasnya.

Menurut Harmawati, penanganan dini sangat penting mengingat TB merupakan penyakit menular yang berpotensi menyebar kepada anggota keluarga yang tinggal serumah.

"Satu orang yang terkena TB berpotensi menularkan kepada anggota keluarga lainnya. Inilah yang menyebabkan kasus TB sulit ditekan jika masyarakat belum memahami gejala dan pentingnya pengobatan yang tuntas," ungkapnya.

Salah satu warga pengurus masjid di Wawowanggu saat menyampaikan aspirasinya di kegiatan reses. Foto: La Ode Andi Rahmat.

Dalam kegiatan tersebut, warga juga menyampaikan sejumlah aspirasi. Camat Kadia, Hasman Dani, memaparkan perkembangan program pengelolaan sampah yang telah berjalan selama empat bulan terakhir melalui sistem penjemputan sampah rumah tangga dari rumah ke rumah.

Ia menjelaskan, sejumlah bak sampah di ruas jalan utama telah dibongkar karena sampah rumah tangga kini diangkut langsung dari rumah warga.

"Masih ada warga yang menghindari layanan penjemputan sampah karena tidak ingin membayar retribusi. Padahal pengelolaan sampah saat ini diarahkan agar lebih tertata dan dikelola dari sumbernya," ujar Hasman Dani.

Perwakilan RT setempat, Edi, mengusulkan adanya pelatihan pengelolaan sampah dan pembuatan kompos agar sampah rumah tangga dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Sementara itu, kader Posyandu Wulele Sanggula, Nuriyati, menyampaikan kebutuhan sarana penunjang pelayanan kesehatan, seperti meja, tempat tidur, bantal, dan timbangan yang sebagian besar sudah tidak layak digunakan.

Aspirasi lain datang dari pengurus masjid yang berharap adanya bantuan fasilitas pendukung kegiatan mengaji anak-anak, seperti kipas angin, pendingin ruangan, dan buku Iqra.

Menanggapi berbagai usulan tersebut, Harmawati memastikan seluruh aspirasi masyarakat akan ditelaah dan diperjuangkan sesuai skala prioritas serta kewenangan yang ada.

"Nanti akan kami pilah mana yang bisa direalisasikan melalui penganggaran dan mana yang bisa ditindaklanjuti dengan cara lain. Saya melihat usulan yang disampaikan masyarakat tidak terlalu berat," katanya.

Menurut Harmawati, kebutuhan dasar seperti timbangan posyandu relatif lebih mudah diupayakan, sedangkan program yang memerlukan anggaran besar, seperti pelatihan masyarakat, akan dikaji lebih lanjut agar dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi warga.

"Untuk program pelatihan tentu perlu perencanaan dan anggaran yang lebih besar karena melibatkan banyak masyarakat. Semua usulan akan kami telaah sesuai skala prioritas," pungkasnya.

Penulis: La Ode Andi Rahmat

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Reses di Wawowanggu, Harmawati Edukasi Warga tentang Pencegahan dan Penanganan TB

Trending Now

Iklan