
Lima Mahasiswa UHO Raih Medali Perak di International Youth Summit Malaysia, Usung Inovasi Terumbu Karang dari Limbah. Foto: Ist.
KENDARI, NOTIFSULTRA.ID — Lima mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional setelah meraih Medali Perak dalam ajang 5th International Youth Summit yang berlangsung pada 29 Mei hingga 1 Juni 2026 di Universiti Putra Malaysia (UPM), Malaysia.
Kelima mahasiswa tersebut tergabung dalam SUSTAINABLE Team, yakni Rony Febryan dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Julian Ardi dari Pendidikan Matematika, Naila Cahya Anugerah dari Program Studi Hukum, Wa Ode Zahra Ar-Raihana dari Keperawatan, serta Rizaldo dari Pendidikan Bahasa Inggris.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Sentosa Foundation bekerja sama dengan Universiti Putra Malaysia itu mempertemukan pemuda dari berbagai negara untuk berkompetisi sekaligus bertukar gagasan mengenai inovasi, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam ajang tersebut, SUSTAINABLE Team membawa inovasi bertajuk “Trapezoidal Artificial Reef”, sebuah konsep terumbu karang buatan berbentuk trapesium yang memanfaatkan beton ramah lingkungan berbahan dasar limbah fly ash, cangkang kerang, dan sabut kelapa.
Inovasi tersebut lahir dari kepedulian terhadap dua persoalan lingkungan yang saling berkaitan, yakni kerusakan ekosistem terumbu karang dan meningkatnya volume limbah yang belum termanfaatkan secara optimal.
Melalui pendekatan ekonomi sirkular, tim UHO berupaya mengubah material yang selama ini dipandang sebagai limbah menjadi material konstruksi yang memiliki nilai guna.
Material tersebut dirancang agar dapat menjadi bagian dari upaya pemulihan ekosistem pesisir, khususnya sebagai media pendukung pertumbuhan kembali terumbu karang.
Bagi SUSTAINABLE Team, capaian tersebut tidak hanya menjadi prestasi dalam sebuah kompetisi internasional, tetapi juga menjadi ruang untuk membuktikan bahwa inovasi lingkungan dapat lahir dari kolaborasi mahasiswa lintas disiplin ilmu.
Ketua SUSTAINABLE Team, Rony Febryan, mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar selama mengikuti kompetisi adalah membagi waktu antara kegiatan perkuliahan dan persiapan menghadapi perlombaan.
Tantangan tersebut semakin kompleks karena kompetisi di Malaysia menjadi pengalaman pertama bagi sebagian anggota tim untuk mengikuti ajang internasional di luar negeri. Adaptasi terhadap lingkungan dan bahasa juga menjadi bagian dari proses yang harus mereka lalui.
Namun, berbagai tantangan tersebut justru memperkuat kerja sama di antara anggota tim. Perbedaan latar belakang keilmuan menjadi modal penting dalam mengembangkan sekaligus mempresentasikan inovasi yang mereka usung di hadapan juri internasional.
Kolaborasi antara mahasiswa dari bidang komunikasi, matematika, hukum, keperawatan, dan pendidikan bahasa Inggris membuat gagasan yang dibawa SUSTAINABLE Team tidak hanya dilihat dari sisi teknologi dan lingkungan, tetapi juga dari aspek komunikasi, edukasi, sosial, serta keberlanjutan.
Ajang 5th International Youth Summit sendiri menjadi wadah pertemuan pemuda dari sejumlah negara, di antaranya Indonesia, Malaysia, Pakistan, Filipina, Maroko, Turkmenistan, dan Sudan Selatan.
Para peserta tidak hanya berkompetisi, tetapi juga saling berbagi perspektif dan gagasan mengenai berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan.
Bagi mahasiswa UHO, perolehan Medali Perak tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas dan kolaborasi lintas disiplin dapat menghasilkan gagasan yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Melalui Trapezoidal Artificial Reef, SUSTAINABLE Team juga menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak selalu harus dilihat sebagai tantangan, tetapi dapat menjadi peluang untuk menciptakan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan ekosistem.
Laporan: LD Andi Rahmat